Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kerajaan Singasari - Munculnya Negara Tradisional (Kerajaan) bercorak Hindu-Buddha di Indonesia

 


Perkembangan agama Hindu-Buddha selama beradab-abad di Indonesia telah meninggalkan berbagai peninggalan, seperti sistem politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Salah satu bentuk peninggalan sistem politik masa penyebaran agama Hindu-Buddha adalah berdirinya berbagai kerajaan Hindu-Buddha. Agar Anda mampu mengidentifikasi perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, cermatilah materi berikut ini.

8. Kerajaan Singasari 

Sejarah kerajaan Singasari berasal dari Kerajaan Tumapel yang dikuasai oleh seorang akuwu (bupati). Letaknya di daerah pegunungan dan yang subur di Malang dengan pelabuhannya bernama Pasuruhan. Dari daerah ini Kerajaan Singasari berkembang bahkan menjadi sebuah kerajaan besar di Jawa Timur terutama setelah mengalahkan Kerajaan Kediri dalam pertempuran di dekat Banten tahun 1222 M.

Berikut ini sumber-sumber sejarah pada masa kerajaan Singasari, antara lain: 

a) Kitab Pararaton dan yang menceritakan tentang raja-raja Singasari.

b) Kitab Negarakertagama, berisi silsilah raja-raja Majapahit yang memiliki hubungan erat am! dengan dengan raja-raja Singasari. 

c) Prasasti-prasasti sesudah tahun 1248 M. 

d) Berita Cina yang menyatakan bahwa Kaisar Kubilai Khan (Cina) mengirim pasukannya untuk menyerang kerajaan Singasari 

e) Peninggalan purbakala berupa bangunan candi yang menjadi pendarmaan raja-raja Singasari seperti Candi Kidal, Candi Jago, dan Candi Singasari.

a. Kehidupan politik 

Raja-raja yang pernah memerintah kerajaan Singasari adalah raja Ken Arok, Raja Anusapati, Raja Tohjaya, Raja Wisnuwardhana, Raja Kertanegara. Di bawah pemerintahan Raja Kertanegara, kerajaan Singasari mencapai masa kejayaannya.

Setelah keadaan Jawa Timur dianggap baik, Raja Kertanegara melangkah keluar Jawa Timur untuk mewujudkan cita-cita persatuan seluruh Nusantara di bawah panji Kerajaan Singasari. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Raja Kertanegara melaksanakan politik dalam negeri dan politik luar negeri. 

Politik dalam negeri dilaksanakan dengan jalan sebagai berikut. 

1) Mengadakan pergeseran pembantu-pembantu, seperti mahapatih Raganata, digantikan oleh Aragani dan Raganata diangkat menjadi bupati Sumenep (Madura). 

2) Berbuat baik terhadap lawan-lawan politiknya, seperti dengan mengangkat putra Jayakatwang (Raja Kediri) yang bernama Ardharaja menjadi menantunya. Juga mengangkat Raden Wijaya (cucu Mahesa Cempaka) sebagai menantunya. 

3) Memperkuat dan membangun angkatan perang, balk angkatan darat maupun angkatan laut yang menciptakan keamanan dan ketertiban di dalam negeri, serta untuk mewujudkan persatuan Nusantara.

Dalam politik luar negeri, Raja Kertanegara berusaha untuk mempersatukan seluruh Nusantara di bawah panji Kerajaan Singasari. Untuk itu cita-cita politik luar negeri tersebut Raja Kertanegara melakukan cara-cara sebagai berikut.

1) Melaksanakan ekspedisi Pamalayu (1275 dan 1286) untuk menguasai kerajaan Melayu serta melemahkan posisi Kerajaan Sriwijaya di selat Malaka. 

2) Menguasai Bali (1284 M). 

3) Menguasai Jawa Barat (1289 M). 

4) Menguasai Pahang (Malaya) dan Tanjung Pura (Kalimantan). Garis Pahang dengan Tanjung Pura mempunyai tiga fungsi yaitu, untuk menguasai lalu lintas pelayaran perdagangan di laut Cina Selatan, untuk pertahanan terdepan dalam menghadapi serangan Cina dan Mongol untuk mengepung wilayah kekuasaan Sriwijaya.

b. Kehidupan sosial 

Rakyat Singasari mengalami pasang surut kehidupan sejak zaman Ken Arok sampai masa pemerintahan Wisnuwardhana.

Pada masa pemerintahan Kertanegara, dibangun dengan baik sehingga rakyat hidup aman dan sejahtera. Bersamaan dengan usaha Kertanegara untuk memperluas daerah kekuasaan, Kerajaan Mongol yang dipimpin oleh Kubilai Khan juga melakukan ekspansi ke Asia Tenggara. Selanjutnya, Kubilai Khan mengirim utusan ke Singasari untuk meminta raja Kertanegara mengakui kekuasaannya antara tahun 1280, 1281, 1286, dan terakhir pada tahun 1289 yang dipimpin oleh Meng Chi. Kertanegara merasa kesal sehingga utusannya itu dianiaya hingga cacat dan disuruh pulang. Saat tiba di negerinya utusan itu menceritakan tindakan Raja Kertanegara kepada Kubilai Khan sehingga Kubilai Khan marah dan menyiapkan pasukannya untuk menghukum Kertanegara. Namun, ketika pasukan itu tiba di Jawa tahun 1293, Raja Kertanegara telah mangkat.

c. Kehidupan ekonomi 

Kehidupan ekonomi masyarakat Kerajaan Singasari tidak diketahui secara jelas. Akan tetapi mengingat, Kerajaan Singasari berpusat di tepi Sungai Brantas (jawa timur), kemungkinan masalah perekonomian tidak jauh berbeda dari kerajaan-kerajaan terdahulunya, yaitu secara Iangsung maupun tidak langsung oleh hasil-hasil bumi yang sangat besar dari rakyat Jawa Timur.

d. Kehidupan budaya 

Kehidupan kebudayaan masyarakat Singasari dapat diketahui dari peninggalan candi-candi dan patung-patung yang berhasil dibangunnya. Candi hasil peninggalan Singasari, di antaranya adalah Candi Kidal, Candi Jago, dan Candi Singasari. Adapun arca atau patung hasil peninggalan Kerajaan Singasari, antara lain Patung Ken Dedes sebagai perwujudan dari Prajnyaparamita lambang kesempurnaan ilmu dan Patung Kertanegara dalam wujud Patung Joko Dolog.

e. Kemunduran Kerajaan Singasari 

Penyebab runtuhnya Kerajaan Singasari, antara lain sebagai berikut. 

1) Kertanegara terlalu menitikberatkan pada usaha memperluas daerah kekuasaan di luar Jawa dan kurang memperhatikan perkembangan politik di dalam negeri. 

2) Pertahanan di dalam negeri sangat lemah sehingga Jayakatwang mudah dalam melakukan pemberontakan. 

3) Kertanegara selalu terlibat konflik dengan Kaisar Kubhilai Khan sehingga perhatiannya selalu tertuju ke luar. 

4) Kertanegara berwatak keras sehingga sulit menerima saran dari pejabat-pejabat negara atau raja bawahannya.

5) Kertanegara banyak membuat kecewa para pejabat penting karena kurang menyetujui politiknya, misalnya Mahapatih Raganatha dan Banyak Wide.

 

Post a Comment for "Kerajaan Singasari - Munculnya Negara Tradisional (Kerajaan) bercorak Hindu-Buddha di Indonesia"