Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kerajaan Kota Kapur - Munculnya Negara Tradisional (Kerajaan) bercorak Hindu-Buddha di Indonesia

 


Perkembangan agama Hindu-Buddha selama beradab-abad di Indonesia telah meninggalkan berbagai peninggalan, seperti sistem politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Salah satu bentuk peninggalan sistem politik masa penyebaran agama Hindu-Buddha adalah berdirinya berbagai kerajaan Hindu-Buddha. Agar Anda mampu mengidentifikasi perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, cermatilah materi berikut ini.

13. Kerajaan Kota Kapur

a. Lokasi Kerajaan 

Mendengar kata “kota kapur” bagi pecinta sejarah pasti akan terlintas tentang Kerajaan Sriwijaya. Memang hal itu tidak salah karena salah satu bukti sejarah tentang Kerajaan Sriwijaya adalah Prasasti Kota Kapur. Prasasti tersebut ditemukan di wilayah Desa Kota Kapur, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Prasasti ini dinamakan menurut tempat penemuannya, yaitu sebuah dusun kecil yang bernama “Kota Kapur”. Di wilayah ini pula diduga letak Kerajaan Kota Kapur tersebut.

b. Aspek Kehidupan Politik 

Keterbatasan sumber yang didapat di Situs Kota Kapur membuat para ahli sejarah kesulitan untuk merekonstruksi kehidupan politik di Kerajaan Kota Kapur. Jadi, sukar sekali untuk menentukan pendiri kerajaan, tahun berdirinya kerajaan, raja-raja yang berkuasa, dan peranan kerajaan tersebut di sekitar wilayah tersebut. Justru keberadaan Prasasti Kota Kapur yang ditemukan di situs tersebut lebih banyak memuat penguasaan Sriwijaya atas wilayah tersebut. Sriwijaya adalah kerajaan maritim/bahari yang wilayahnya meliputi kawasan Asia Tenggara, bahkan sampai ke Madagaskar. Armada kapal angkatan laut Sriwijaya menguasai jalur perdagangan Asia Tenggara. Sriwijaya juga menjadi pusat agama Buddha.

c. Kehidupan sosial 

Wilayah Bangka di Kepulauan Bangka Belitung dikelilingi oleh laut dan selat. Keberadaan perairan Selat Bangka sering dilintasi oleh kapal-kapal Nusantara dan asing. Keadaan ini ternyata dimanfaatkan oleh sekelompok orang tidak bertanggung jawab untuk merampas muatan kapal-kapal yang melintas di perairan tersebut yang berada sekitar 21 mil dari Pantai Kota Kapur (Penangan).

Adanya kegiatan perompak atau karena wilayah ini menentang Sriwijaya hingga menyebabkan  Sriwijaya (Dapunta Hyang) turun tangan melakukan penumpasan. Diduga dari peristiwa ini, kemudian didirikan Prasasti Kota Kapur sebagai tanda peringatan (kutukan) untuk tidak berbuat onar dan setia kepada Sriwijaya.

Masyarakat yang tinggal di sekitar pantai pada umumnya cenderung lebih terbuka dalam menerima pengaruh dibandingkan masyarakat pedalaman. Tidak heran apabila agama Hindu juga berkembang di wilayah Kota Kapur sehingga muncul kerajaan bercorak Hindu.

d. Kehidupan ekonomi 

Keberadaan Selat Bangka sangat mendukung sekali dalam dunia perdagangan sehingga diduga penduduknya umumnya mengandalkan kehidupannya pada dunia perdagangan. Keberadaan pecahan keramik yang biasanya merupakan barang yang berasal dari Tiongkok juga memperkuat keterlibatan masyarakat Kerajaan Kota Kapur dalam perdagangan internasional.

e. Kehidupan budaya 

Berdasarkan temuan benda-benda sejarah yang diduga sezaman dengan Kerajaan Kota Kapur maka dapat ditarik kesimpulan bahwa budaya masyarakatnya telah maju. Buktinya mereka telah mampu membuat candi, arca, pelabuhan, dan benteng pertahanan.

f. Kemunduran kerajaan 

Seperti halnya kemunduran Kerajaan Tulang Bawang, maka kemunduran Kerajaan Kota Kapur diduga juga akibat ekspedisi penaklukan oleh Sriwijaya yang dimulai pada tahun 686.

 

Post a Comment for "Kerajaan Kota Kapur - Munculnya Negara Tradisional (Kerajaan) bercorak Hindu-Buddha di Indonesia"