Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Indonesia Pada Masa Islam

Perhatikan masjid Sultan Suriansyah peninggalan Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan pada gambar 2.1! Masjid Sultan Suriansyah dibangun pada 1526 oleh raja pertama Banjar. Masjid Sultan Suriansyah memiliki arsitektur bergaya tradisional Banjar. Keberadaan masjid tersebut menambah khazanah kebudayaan Islam di Indonesia. Tidak hanya itu, keberadaan masjid Sultan Suriansyah menjadi bukti perkembangan kerajaan bercorak Islam di Ind,onesia. Selain Kerajaan Banjar, apa saja kerajaan bercorak Islam yang berkernbang di Indonesia? Apa saja peninggalan kerajaan-kerajaan tersebut? Bagaimana pula proses masuknya Islam di Indonesia? Untuk mengetahui jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut, simak pembahasan materi pada bab ini.



Perkembangan Islam di Indonesia dapat dipelajari melalui peninggalan sejarah kerajaan-kerajaan bercorak Islam, salah satunya tampak pada gambar 2.1. Masjid Sultan Suriansyah di Banjarmasin, Kalimantan Selatan merupakan peninggalan sejarah Kerajaan Banjar. Selain Kerajaan Banjar, apa saja kerajaan bercorak Islarn di Indonesia? Lantas, bagaimana proses masuknya Islam di Indonesia? Pada bab ini Anda akan menelusuri proses kedatangan Islam dan media penyebaran Islam di Indonesia. Anda juga akan diajak mempelajari perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.

A. Proses Kedatangan Islarn dan Islarnisasi di indonesia

Agama Islam dibawa oleh para pedagang muslim yang singgah di wilayah Kepulauan Indonesia, Pedagang muslim inilah yang berperan penting dalam proses masuknya agama dan kebudayaan Islam di Indonesia. Lantas, bagaimana awal mula Islam masuk wilayah. Indonesia? Bagaimana cara penyebaran Islam di Indonesia? Perhatikan pembahasan berikut! 

1. Teori Kedatangan Islarn di indonesia

Hingga kini proses masuknya Islam di Indonesia masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli. Perdebatan mengenai proses kedatangan Islam dan islamisasi di Indonesia mencakup tiga masalah pokok yaitu tempat asal kedatangan Islam, para pembawa agama Islam, dan waktu kedatangan Islam di Indonesia. Perdebatan terkait proses kedatangan Islam dan islamisasi di Indonesia tersebut memunculkan sejumlah teori berikut.

a. Teori Persia menyatakan Islarn di Indonesia berasal dari Persia. Teori ini dicetuskan oleh Hoesein Djajadiningrat dan Oemar Amir Husein.

b. Teori Gujarat menjelaskan agama Islam di Indonesia dibawa oleh para pedagang dari Gujarat pada abad XIII Masehi. Pendukung teori Gujarat antara lain J. Pijnapel, Snouck Hurgronje, W.P. Stutterheim, dan Sucipto Wirjosuparto.

c. Teori Mekah menyatakan ajaran islam yang berkembang di Indonesia berasal dari Mekah dan Madinah (Arab). Tokoh pendukung teori Mekah antara lain Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka), Ahmad Mansyur Suryanegara, A.H. johns, ' dan T.W. Arnold.

d. Teori Cina menyatakan proses kedatangan Islam di Indonesia berkaitan erat dengan peran para perantau darri Cina. Ajaran Islam telah berkembang di Cina pada abad VII Masehi. Tokoh pendukung teori Cina, yaitu Sumanto Al-Qurtubi dan Slamet Muljana.

2. Media Penyebaran Islam di Indonesia 

Penyebaran Islam di Indonesia dilakukan melalui beberapa media. Para pedagang asing dari Arab, Persia, dan Gujarat memainkan peran penting dalam islamisasi di Indonesia. Para pedagang datang dengan membawa agama dan kebudayaan Islam. Selanjutnya, mereka berdagang di berbagai wilayah Indonesia sambil menyebarkan agama dan kebudayaan Islam di tempat-tempat yang mereka singgahi. Interaksi yang terjadi antara para pedagang muslim dan penduduk setempat menyebabkan pedagang dan masyarakat di Kepulauan Indonesia memeluk Islam. Selanjutnya, pedagang dan masyarakat Indonesia yang telah memeluk Islam menyebarkan Islam kepada orang-orang di sekitarnya.



Islamisasi melalui perdagangan sangat menguntungkan dan lebih efektif daripada cara-cara lain. Masyarakat yang terlibat dalam perdagangan bukan hanya golongan bangsawan dan raja, tetapi termasuk golongan bawah dan menengah. Kondisi ini didukung dengan makin ramainya jalur perdagangan di Kepulauan Indonesia, terutama antara Selat Malaka, jawa, dan Maluku. DaIam perkembangannya, jalur ini memunculkan pusat-pusat perdagangan di sepanjang pantai Pulau Sumatra dan Malaka. Selain perdagangan, penyebaran Islarn di Indonesia dilakukan melalui media berikut.

a. Perkawinan

Aktivitas perdagangan yang dilakukan para pedagang muslim pada masa lalu sangat bergantung pada perubahan angin musim (monsun). Oleh kar:ena itu, banyak pedagang asing singgah di kota-kota pelabuhan. Mereka biasanya menetap dalam waktu cukup lama. Selama menetap di suatu tempat para pedagang berinteraksi dengan penduduk lokal. Interaksi antara pedagang muslim dan penduduk lakal menimbulkan hubungan baik yang diteruskan dengan perkawinan antara wanita lokal dan pedagang rnuslirn. Wanita tersebut biasanya berasal dari golongan bangsawan. Melalui perkawinan ini lahir generasi muslim baru.

b. Politik

Politik juga menjadi sarana islamisasi di Indonesia. Dalam hal ini raja sebagai penguasa lokal memiliki peran besar dalam islamisasi Ketika raja memeluk lslam, rakyat akan mengikuti karena rakyat sangat patuh kepada raja. Seorang raja selalu menjadi panutan, bahkan teladan bagi rakyatnya. Apa pun titah raja, pasti dipatuhi rakyatnya. Oleh karena itu, Islam mudah tersebar di wilayah Kepulauan Indonesia. Setelah agama Islam diterima oleh pihak kerajaan, kepentingan politik dilaksanakan melalui perluasan wilayah. Selanjutnya, beberapa kerajaan Isiam melakukan perluasan wilayah terhadap kerajaan lain. Meskipun penaklukan suatu wilayah oleh kerajaan Islam dilakukan melalui jalan perang, penguasa muslim tetap bertoleransi kepada pemeluk agama lain dan tidak memaksakan Islam sebagai agama resmi di kerajaan yang ditaklukkan. Fakta ini menjadi salah satu faktor penyebab Islam mudah diterima oleh masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia.



c. Pendidikan

Perhatikan kegiatan di pesantren masa kini pada gambar di atas! Melalui pesantren, anak-anak dapat menimba ilmu mengenai ajaran agama Islam. Oleh karena itu, pesantren menjadi media efektif untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Bagaimana peran pesantren pada masa lalu dalam penyebaran agama Islam? Pada masa perkembangan Islam 'banyak ulama mendirikan lembaga pendidikan Islam, berupa pesantren. Melalui pesantren, para ulama memberikan pengajaran ilmu keislaman kepada para santri. Materi pembelajaran dalam pesantren bersumber pada kitab kuning dari Timur Tengah yang ditulis pada abad VII-VIII.

Materi yang diajarkan di pesantren pada masa itu dilengkapi dengan ilmu fikih dan tauhid. Setelah para santri dianggap mampu dan memiliki pengetahuan yang cukup, mereka kembali ke daerah asalnya ataupun ke daerah lain untuk menyebarkan agama Islam.

Lembaga pendidikan pesantren tidak membedakan status sosial dan kelas. Oleh karena itu, seseorang yang ingin mempelajari atau memperdalam pengetahuan Islam diizinkan memasuki lembaga pendidikan ini. Dengan demikian, pesantren dan para ulamanya memiliki peran penting dalam proses islamisasi di Indonesia.

Keberadaan pesantren melahirkan para ulama yang berperan besar dalarn islamisasi di wilayah Kepulauan Indonesia. Beberapa pesantren yang memiliki pengaruh besar pada masa perkembangan Islam antara lain pesantren Ampel Denta di Surabaya dan pesantren Giri Kedaton di Gresik. Pesantren Ampel Denta dibangun oleh Sunan Ampel dan diyakini sebagai pesantren pertama di Indonesia. Pesantren Ampel Denta menghasilkan sejumlah ulama seperti Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Sementara itu, pesantren Giri Kedaton menghasilkan sejumlah ulama berpengaruh dalam bidang politik dan agama seperti Sunan Prapen (Raja Giri Kedaton) dan Zainal Abidin (Sultan Ternate).

Melalui lembaga pesantren Islam menyebar ke seluruh daerah hingga akhirnya banyak penduduk Indonesia yang memeluk Isiam. Oleh karena itu, dapat dikatakan model pendidikan pesantren yang tidak mengenal kelas menjadi media penting dalam proses penyebaran Islarn di Indonesia. Bahkan, dalam perkembangannya model pendidikan pesantren diadopsi untuk pengembangan pendidikan keagamaan pada, lembaga-lembaga pendidikan sejenis di Indonesia.


d. Kesenian

Kesenian menjadi salah satu media efektif untuk menyebarkan agama Islarn di wilayah Kepulauan Indonesia. Adat dan kesenian yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat dimanfaatkan oleh para penyebar Islam sebagai media dakwah. Melalui media kesenian, Islarn dapat diterima masyarakat secara damai tanpa paksaan. Salah satu bentuk kesenian sebagai media islamisasi adalah lagu atau tembang. Tokoh yang memanfaatkan tembang sebagai media dakwah yaitu Sunan Bonang. Sunan Bonang menyisipkan nilai-nilai keislaman dalam tembang yang diciptakannya. Salah satu tembang yang diciptakan Sunan Bonang sebagai media dakwah berjudul "Tombo Ati".

Selain tembang, para ulama menggunakan wayang sebagai media dakwah dalam islamisasi di Indonesia. Pertunjukan wayang tidak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan mendalam bagi para penonton. Sebagai media dakwah, pertunjukan wayang disisipi ajaran dan nilai Islam. Sunan Kalijaga merupakan tokoh yang menggunakan media wayang untuk menyebarkan agama Islam. Sunan Kalijaga tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi meminta penonton untuk mengikuti mengucapkan kalimat syahadat.

e. Tasawuf

Tasawuf merupakan praktik keagamaan dalam Islam untuk menemukan kesadaran dan pencerahan batin. Dengan demikian, ajaran tasawuf berhubungan erat dengan unsur mistik. Ajaran tasawuf berorientasi pada kesucian jiwa, berpola hidup sederhana, mendahulukan kebenaran, dan rela berkorban untuk tujuan mulia. Ajaran-ajaran tasawuf merupakan pengalaman (tajribah) spiritual bersifat pribadi yang dilandasi olehkeinginan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME.

Para sufi juga berperan memperluas jangkauan islamisasi di Indonesia. Pada tahap awal islamisasi para sufi hanya mampu menjangkau wilayah kota-kota pelabuhan. Dalain perkembangannya, para sufi memperkenalkan ajaran tasawuf melalui tarekat-tarekat dan kesastraan suluk di kalangan masyarakat. Melalui tasawuf dan tarekat, islamisasi dapat menjangkau masyarakat di wilayah perdesaan.

Para sufi yang mengajarkan tasawuf dan tarekat di wilayah Kepulauan Indonesia antara lain Hamzah Fansuri (1590), Syamsuddin as-Sumatrani (1630), Nuruddin ar-Raniri (1658), Abd. Rauf as-Singkili (1615-1693), dan Syekh Yusuf al-Makassari (1626-1699). Sufi-sufi tersebut memiliki kontribusi besar dalam penyiaran dan perkembangan Islam di Indonesia.

Melalui berbagai cara di atas, Islam mudah diterima dan dipelajari oleh masyarakat. Selain itu, penyebaran Islam di Indonesia didukung oleh berbagai faktor berikut.
a. Islam tidak mengenal sistem kasta.
b. Penyebaran Islam dilakukan secara damai.
c. Islam bersifat terbuka karena setiap muslim merupakan pendakwah bagi agamanya.
d. Upacara atau ibadah dalam Islam dilakukan dengan cara mudah dan sederhana.
e. Cara penyebaran Islam disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia.
f. Syarat masuk Islam cukup mudah, yaitu mengucapkan dua kalirnat syahadat.

Agama Islam berkembang di Indonesia dalam waktu cukup lama dan berkesinambungan. Perkembangan awal agama Islam di Indonesia terjadi dalam beberapa tahap. Oleh karena itu, Islam dapat dipelajari dan dipahami secara mendalam oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Bahkan, pada rnasa kini Islam menjadi agama yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia.

Post a Comment for "Indonesia Pada Masa Islam"